Semakin kembangnya era modern ini, muncul yang namanya AI (Artificial Intelligence). AI mempengaruhi berbagai faktor, seperti karya seni. Dengan AI, semua orang dapat membuat gambar apa saja secara instan dengan sekali klik.
Penggunaan AI buat karya seni menimbulkan ketidakadilan buat para seniman. Karya seniman yang dibuatkan oleh para seniman dengan proses yang panjang, digantikan oleh karya seni instant AI.
Ada berbagai contoh kasus penggunaan karya seniman AI menggantikan karya seniman para seniman:
Pertama ada kasus Gibran Rakabuming (Mantan Wali Kota Surabaya) menggantikan foto profil Twitter/X dengan gambar AI pada Kamis 25 Januari 2024. Gestur tangan diangkat sambil melirik-lirik. Padahal, banyak masyarakat Indonesia yang tak setuju dengan sikapnya saat itu karena dinilai arogan, songong, dan tak menghormati Mahfud Md. sebagai lawan debatnya.
"Sikap Gibran dianggap bebal lantaran tak mau mendengarkan suara rakyat Indonesia, terutama aspirasi dari ilustrator anak bangsa yang banyak mengirimkan gambar karya buatan tangan sendiri, bukannya AI," kata netizen @anak*******. Disisi lain, ada pula yang merasa bahwa tindakan Gibran itu merasa bahwa dirinya paling benar sebagai anak sulung Presiden Jokowi, "Dengan menjadikan gimmick ini sebagai meme dan PP, berarti fixed dia merasa itu benar, boleh dan pantas dilakukan oleh seorang calon pemimpin bangsa," tulis Deputi Desa Timnas AMIN bernama @zainul_munas.
Kedua, foto Capres-Cawapres (Anies Baswedan, Prabowo, Subianto, Ganjar Pranowo, Muhaimin Iskandar, Gibran Rakabuming, dan Mahmud MD) dalam versi AI. Mereka digambarkan sebagai anak-anak kecil.
Menanggapi kejadian tersebut, dosen Kajian Media UM Surabaya, Radius Setiyawan berkomentar bahwa kemajuan teknologi AI kini dapat dimanfaatkan oleh masing-masing tim sukses untuk mendapatkan simpati masyarakat. "Jadi adanya teknologi AI yang bisa mengubah wajah seseorang menjadi herois, lucu, tegas dan sejenisnya merupakan suatu konsekuensi dari kemajuan teknologi. Tentu hal ini akan sangat mungkin dimanfaatkan oleh timses untuk menciptakan figure diri sesuai dengan pasar atau komunitas yang dibidik," kata Radius, dikutip dari laman UM Surabaya.
Ketiga, lomba membuat poster dan menciptakan lagu menggunakan AI dan mewarnai lomba Agustusan di Kelurahan Sumbersari, Jawa Timur, Minggu pada 11 Agustus 2024. "Ide lomba membuat poster dan lagu menggunakan aplikasi AI berawal dari obrolan di antara anak muda yang tahun ini menjadi motor utama dalam menggelar rangkaian acara peringatan HUT Kemerdekaan RI di RW 17," kata juri sekaligus Pembina Karang Taruna Nawasena, Didik Suharijadi, di lingkungan setempat.
"Setahu saya lomba membuat poster dan lagu menggunakan aplikasi AI itu mungkin pertama kali diadakan, bahkan untuk di level Jawa Timur. Dengan lomba semacam itu, anak-anak muda mendapatkan kesempatan mengembangkan ide kreatifnya," katanya.
Tetapi saat Allen mengunggah kemenangan dia di sosial media, karya dia menjadi viral karena ia mengungkapkan bahwa cara ia membuat karya seniman dengan Midjourney, sebuah program AI yang dapat mengubah deskripsi teks ke gambar.
Allen mengatakan bahwa dia bermaksud untuk membuat pernyataan tentang karya seninya, dan mengingat wacana online yang ramai di sekitarnya, dia merasa telah mencapai tujuan tersebut, katanya kepada Kepala Suku Pueblo, Anna Lynn Winfrey. Dia juga tidak terlihat telah melanggar peraturan resmi dari lomba tersebut.
“Saya tidak akan minta maaf,” dia katakan. “Saya menang, dan tidak melanggar peraturan.”
Kelima, pemenang menolak hadiah dari Sony World Photography 2023 setelah mengungkapkan kreasi AI. Artist Jerman, Boris Eldagsen, masukannya yang berjudul “Pseudomnesia: The Electrician” memenangkan kategori terbuka kreatif pada Sony World Photography Award. Dia mengatakan bahwa karya seni tersebut digunakan untuk menguji kompetisi dan menciptakan diskusi tentang masa depan fotografi.
Dari kelima peristiwa tersebut, menunjukan bahwa AI dengan gampangnya menggantikan karya seni para seniman. Tetapi, saya percaya bahwa AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan para seniman dengan barbagai faktor:
- Tidak ada orisinalitas dalam gambar. Hasil karya seni AI diperoleh dari karya seni para seniman yang yang sudah ada. Dan ini mendebatkan soal orisinalitas karya seni tersebut.
- Kekurangan bentuk ekspresi diri kepada karya seni. Bagi para seniman, karya seni adalah bentuk ekspresi diri. Karya seni memiliki unsur cerminan dari pikiran, perasaan, dan perspektif mereka.. Dalam proses menciptakan karya seni, ada perjuangan, pemikiran, dan proses kreatif yang mendalam yang sulit dipahami oleh AI. Di sisi lain karya seni AI adalah hasil dari pengolahan data, tanpa ada makna dan motivasi di baliknya. Ini membuat gambar AI tidak bisa menjadi tempat mengekspresi diri, yang merupakan elemen penting dari karya seni manusia.
- Kekurangan dalam detail karya seni. Jika lihat lebih detail, karya seni AI tidak memiliki detail yang bagus. Detail karya seni merupakan hal penting untuk membuat karya seni yang bagus. Contoh dari gambar detail kurang dari AI ada dari gambar jari-jari, rambut dan detail lainnya.
Kesimpulannya, walaupun AI memiliki kemampuan dalam menghasilkan karya seni, ada banyak faktor yang membuatnya tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran seniman. Orisinilitas, ekspresi diri, dan detail dalam karya seni adalah hal yang hanya bisa diciptakan oleh manusia. Karya seni manusia lebih dari sekadar hasil akhir. Karya seni para seniman adalah refleksi dari proses kreatif yang tidak bisa digantikan oleh AI.
DAFTAR PUSTAKA
Setiawanty, I. (2024). Gibran Ganti Foto Profil Twitter Pakai AI, Dinilai Bebal dan Diajari Cara Berterima Kasih. Diakses dari https://seleb.tempo.co/read/1826389/gibran-ganti-foto-profil-twitter pakai-ai-dinilai-bebal-dan-diajari-cara-berterima-kasih
Yulianti, C. (n.d.). Pakar UM Surabaya soal Foto Gemoy Capres-Cawapres Versi AI: Jangan Cuma Pencitraan. Diakses dari https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7058266/pakar-um-surabaya-soal foto-gemoy-capres-cawapres-versi-ai-jangan-cuma-pencitraan
(N.d.). Diakses dari https://www.msn.com/id-id/berita/teknologidansains/teknologi-ai-mulai-jadi lomba-hut-kemerdekaan-ri-di-perkampungan/ar-AA1oBMgS
Glynn, P. (2023). Sony World Photography Award 2023: Winner refuses award after revealing AI creation. Diakses dari https://www.bbc.com/news/entertainment-arts-65296763
Magazine, S. (2022). Art Made With Artificial Intelligence Wins at State Fair. Diakses dari https://www.smithsonianmag.com/smart-news/artificial-intelligence-art-wins-colorado-state-fair-180980703/
Roose, K. (2022). An A.I.-Generated Picture Won an Art Prize. Artists Aren’t Happy. Diakses dari https://www.nytimes.com/2022/09/02/technology/ai-artificial-intelligence-artists.html
Ihsan, I. (2023). Penggunaan Teknologi “AI” Jadi Kontroversi, Seniman Digital Indonesia: Sesuatu yang Tak Bisa Dihindari. Diakses dari https://www.voaindonesia.com/a/penggunaan-teknologi-ai-jadi-kontroversi-seniman-digital-indonesia-sesuatu-yang-tak-bisa-dihindari/7071147.html







Tidak ada komentar:
Posting Komentar